
SEKARKIJANG.JEMBER – Bupati Jember, Gus Muhammad Fawait (Gus Fawait), menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Jember untuk mendukung para petani tebu di wilayahnya. Menurutnya, komoditas tebu bukan sekadar pemanis meja makan, melainkan instrumen strategis nasional dalam mewujudkan ketahanan pangan sekaligus ketahanan energi melalui pengembangan bioetanol dan biomassa.
Hal tersebut ditegaskan Gus Fawait saat menerima audiensi jajaran pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Pabrik Gula (PG) Glenmore di Pendapa Wahyawiwahagraha, Sabtu malam (25/4/2026). Pertemuan ini menjadi wadah serap aspirasi terkait berbagai kendala yang dihadapi petani tebu, khususnya di wilayah Jember yang menjadi basis pasokan utama bagi PG Glenmore.
Ketua APTR PG Glenmore, Siswono, memaparkan sejumlah persoalan krusial di lapangan, mulai dari kebutuhan kehadiran pabrik gula (PG) swasta di Jember, jaminan stok BBM bersubsidi (solar) saat musim giling, ketersediaan pupuk subsidi, alat mesin pertanian (alsintan), hingga kelancaran program CPCL, merembesnya gula rafinasi ke pasaran dan sebagainya.
Menanggapi hal tersebut, Gus Fawait menyatakan bahwa ekonomi di sektor tebu saat ini cenderung stagnan dan perlu dorongan kebijakan politik yang kuat.”Perkebunan tebu ini adalah jawaban bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Kita akan fasilitasi program-program pusat, termasuk program CPCL Kementerian Pertanian. Produktivitas harus naik, termasuk sinergi dengan PTPN,” ujar Gus Fawait.
Terkait aspirasi kehadiran PG swasta, Gus Fawait mengungkapkan bahwa Jember memiliki potensi besar karena area tebu PG Glenmore berada di Jember. Di era pemerintahan Presiden Prabowo, ia menilai iklim investasi saat ini sangat menarik untuk mendatangkan investor pabrik gula baru ke Jember demi menciptakan multiplier effect ekonomi bagi warga. “Kami sudah berkomunikasi dengan beberapa calon investor besar, namun memang kendala seperti infrastruktur jalan rusak masih menjadi tantangan yang akan kita benahi,” tambahnya.
Selain itu, Gus Fawait juga menyoroti urgensi ketersediaan solar menjelang musim panen, mengingat kondisi geopolitik global (konflik Iran) yang bisa berdampak pada pasokan energi. Ia meminta Satgas untuk mengawal distribusi solar agar tidak macet saat petani mulai menggiling.
Dalam pertemuan tersebut, Haji Mujianto, salah satu tokoh petani, mengeluhkan “penyakit” tahunan berupa rembesnya gula rafinasi ke pasar konsumsi yang memukul harga gula petani. Gus Fawait merespons tegas hal tersebut dengan menginstruksikan pengawasan ketat terhadap peredaran gula rafinasi di wilayah Jember dan Lumajang. “Kami harap ada pengawasan ketat terhadap guka rafinasi yang merembes di Jember, ada juga di Lumajang,” ujar Haji Mujianto. (art)