
General Manager PG Glenmore, Agus Priambodo, menjelaskan bahwa forum ini merupakan langkah krusial untuk menyamakan komitmen antara pabrik dan petani. Sebelum pertemuan ini, koordinasi intensif telah dilakukan melalui FTK Wilayah di Jember dan Banyuwangi.
Mundurnya jadwal giling ini dipengaruhi oleh ujicoba di PG Asembagus Situbondo yang melakukan uji coba giling dengan kapasitas 6.000 tcd pada 17 Mei 2026 mendatang. Sebagai solusinya, sebagian pasokan tebu dari PT Kali Telepak akan dialihkan ke PG Asembagus guna menjamin kecukupan bahan baku di sana.
Meskipun secara resmi jadwal ditetapkan 1 Juni, Agus menambahkan adanya opsi percepatan. “Jika hingga tanggal 9 atau 10 Mei belum ada keputusan final terkait kesepakatan PT SGN, maka PG Glenmore diizinkan mulai giling pada 16 Mei,” jelasnya.
Ketua II Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG Glenmore, Wagito, yang hadir mewakili Ketua Umum Siswono, menyoroti tantangan berat yang dihadapi petani musim ini. Selain adanya anomali pertumbuhan tebu, lonjakan biaya operasional produksi menjadi beban tambahan.
“Harga karung naik signifikan dari Rp4.000 menjadi Rp 6.800 per lembar. Harga plastik dan tenaga kerja juga naik. Kami sangat berharap ada penyesuaian harga dasar gula agar kesejahteraan petani tetap terjaga,” ungkap Wagito di hadapan perwakilan Bank Jatim dan PT Petrokimia.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Danang, menegaskan dukungannya agar hasil tebu Banyuwangi diutamakan untuk pabrik di wilayah sendiri. “Saya harapkan tebu Banyuwangi masuk ke pabrik di Banyuwangi sendiri untuk kemakmuran daerah kita,” tegasnya.
Manajer Tanaman PG Glenmore, Anjar Ramadhani, memaparkan bahwa pada musim giling 2026 ini, PG Glenmore menargetkan menggiling 1,022 juta ton tebu. Kapasitas pabrik juga ditingkatkan menjadi dari 6.000 menjadi 6.300 TCD (Tons of Cane per Day).
Untuk menjaga kualitas produksi, manajemen menetapkan standar ketat bagi petani mitra antara lain tebu Wajib MBS (Manis, Bersih, dan Segar), Kualitas BBT, Minimal brix 18 persen dan bebas dari sampah (sogolan, tanah, batu dll). Waktu tebang hingga masuk meja tebu maksimal 24 jam. Untuk Tebu Terbakar Diterima maksimal 3 hari setelah terbakar dengan potongan rendemen sesuai kesepakatan yaitu 5, namun tebu yang sudah berbau atau brondolan akan ditolak.
Penerimaan tebu perdana dijadwalkan pada 30 Mei 2024, disusul pembukaan giling pada 1 Juni, dan direncanakan tutup giling pada 4 November 2026. (art)