
Berangkat dari “Titik Minus” di Ujung Timur Madura
Lahir di sebuah pulau kecil terpencil di ujung timur Sumenep, Jawa Timur, masa kecil Holand jauh dari hiruk-pikuk kemajuan kota. Hidupnya bermula dari apa yang ia sebut sebagai “titik minus”. Bukan sekadar keterbatasan ekonomi, ia harus kehilangan figur ayah sejak duduk di bangku kelas 4 SD.
Ibunda Holand menjadi pahlawan tunggal yang berjuang menyambung hidup. Demi pendidikan sang anak, Holand dititipkan di sebuah pondok pesantren gratis. Di sanalah, karakter dan mentalitasnya ditempa hingga lulus Madrasah Aliyah, meski hidup dalam segala keterbatasan.
Merantau ke Jember: Menjemput Takdir dan Melawan Kemiskinan
Tahun 2010 menjadi tonggak sejarah bagi Holand. Bermodal tekad bulat untuk mengubah nasib keluarga, ia memutuskan merantau ke Kabupaten Jember. Tanpa modal uang, ia melakoni berbagai pekerjaan serabutan.
Dunia bisnis Jember pun menjadi saksi jatuh bangunnya Holand. Kegagalan demi kegagalan ia telan sebagai pelajaran. Baginya, menyerah adalah kemewahan yang tidak sanggup ia beli. Di setiap titik terendahnya, doa sang ibu yang hidup sebatang kara di kampung halaman menjadi bahan bakar untuk bangkit kembali.
Membangun Kemandirian Lewat HSM Group
Kerja keras itu akhirnya mengkristal dalam bentuk HSM Group. Sebuah unit usaha yang kini menjadi bukti nyata tangan dinginnya dalam berbisnis:
-
HSM Garment: Bergerak di bidang konveksi dan produksi pakaian.
-
HSM Percussion Factory: Pabrik alat musik perkusi yang mengedepankan kualitas kreativitas anak bangsa.
Lewat HSM, Holand tidak hanya membangun ekonomi pribadi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat Jember, membuktikan bahwa anak kampung dari pulau kecil pun mampu bersaing di industri kreatif.
Visi di HIPMI Jember: Siap Menderita Demi Anggota
Kini, sebagai Ketua Umum BPC HIPMI Jember, Holand membawa tagline yang sangat berani: “1 Visi, 1000 Aksi”. Ia ingin membawa HIPMI bukan hanya sebagai organisasi tempat berkumpul, melainkan wadah aksi nyata bagi pengusaha muda di Jember.
Filosofi kepemimpinannya pun tergolong keras dan disiplin. Dalam sebuah deklarasi, ia menegaskan prinsipnya:
“Kalau ingin enak, jangan jadi pemimpin. Kalau ingin jadi pemimpin, siapkan diri untuk menderita.”
Kalimat ini menjadi pengingat bagi seluruh kader HIPMI Jember bahwa kepemimpinan adalah soal tanggung jawab dan pengorbanan, bukan tentang mencari keuntungan pribadi.
Menginspirasi Generasi Muda
Perjalanan Holand Sanjaya dari pesisir Sumenep hingga ke puncak kepemimpinan pengusaha di Jember adalah pesan kuat bagi generasi muda di wilayah Sekarkijang (Sekitar Karisidenan Besuki dan Lumajang). Bahwa kemiskinan dan keterbatasan bukanlah tembok penghalang, melainkan batu loncatan menuju mimpi besar.
Kini, impian terbesarnya sederhana namun mendalam: melihat sang ibu tersenyum bangga menyaksikan putranya telah berhasil menaklukkan kerasnya dunia rantau dan menjadi manfaat bagi banyak orang.