Site icon Sekar Kijang News

JELANG MUSIM GILING TEBU 2026, PG GLENMORE BANYUWANGI DAN PETANI PERKUAT SINERGI DI FORUM FTKW JEMBER

JEMBER – Menyongsong musim giling tahun 2026, Pabrik Gula (PG) Glenmore menggelar Forum Temu Kemitraan Wilayah (FTKW) Jember bersama para petani tebu di Saung 925 Wirajaya APTR PG Glenmore, Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari, Jember, Sabtu (11/4/2026). Pertemuan ini menjadi ruang krusial untuk mengevaluasi kebijakan sekaligus mematangkan kesiapan teknis operasional giling yang dijadwalkan berlangsung 161 hari.
General Manager (GM) PG Glenmore, Agus Priambodo menyampaikan bahwa musim giling tahun ini direncanakan dimulai pada 5 Mei hingga 14 Oktober 2026. Pihak pabrik mulai menerima kiriman tebu pada 3 Mei 2026 dengan target total tebu digiling mencapai sekitar 1 juta ton (900 ribu ton Tebu Sendiri (TS) dan 113 ribu ton Tebu Rakyat (TR) untuk wilayah Jember dan Banyuwangi).
Agus menggarisbawahi tantangan berat di tengah situasi geopolitik global, seperti Perang Iran Vs Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan biaya operasional. “Harga solar industri saat ini sudah mencapai Rp32.000 per liter. Belum lagi kenaikan harga produk turunan minyak bumi seperti karung plastik. Kami juga mewaspadai rembesan gula rafinasi yang bisa menekan hasil petani. Prinsipnya, petani harus untung, PG pun ikut untung,” tegas Agus.
Agus Priambodo menegaskan PG Glenmore telah siap melaksanakan musim giling 2026.
Ketua APTR PG Glenmore, Haji Siswono, menekankan pentingnya forum ini sebagai sarana evaluasi atas ketimpangan yang terjadi di tahun sebelumnya. Ia menyoroti perlunya perlakuan adil dalam penerapan regulasi bagi petani.
“Forum ini adalah ruang untuk mendiskusikan keluhan kedua belah pihak. Jika PG rugi, ada negara di belakangnya, namun jika petani rugi, mereka dikejar bank. Kami meminta evaluasi kebijakan agar ada keadilan bagi petani tebu rakyat,” ujar Siswono. Ia juga mengingatkan agar pengawasan terhadap kualitas tebu diperketat, termasuk mencegah adanya material seperti batu besar atau pasir yang sengaja dimasukkan dalam muatan.
Dalam pemaparannya, Asisten Manajer TMA PG Glenmore Bachtiar Jusuf Effendi menjelaskan beberapa syarat ketat agar tebu layak masuk pabrik, di antaranya: Kualitas MBS, Tebu Terbakar, Kebersihan tebu. Selain itu juga dibahas tentang hak dan kewajiban petani. Sistem penjualan gula dan tetes dan lain-lain.
Haji Mudjianto perwakilan petani, mengusulkan agar kesepakatan natura berada di angka 5 hingga 10 persen.
Mengenai kualitas tanaman, pihak PG Glenmore mengungkapkan hasil analisa awal menunjukkan tingkat kemasakan tebu tidak jauh berbeda dari tahun lalu karena pola curah hujan yang serupa.
“Prediksi kami ke depan akan lebih baik seiring masuknya musim kemarau di akhir Mei. Petani diharapkan bisa masuk pada periode ketiga untuk hasil maksimal,” jelas Anton Manajer Keuangan PG Glenmore.
Menurut Guntur Manajer Pengolahan PG Glenmore kunci kesuksesan musim giling 2026 ini terletak pada konsistensi pasokan harian. Pihak manajemen berharap kendala kekurangan pasokan seperti tahun lalu tidak terulang kembali demi mencapai target rendemen dan keuntungan bersama. (art)

Exit mobile version