SEKARKIJANG.BANYUWANGI – Matahari tepat berada di puncaknya saat Abdurahman (45) mulai melangkahkan kaki keluar dari GOR Tawang Alun, Kelurahan Mojopanggung, Minggu (28/12). Di tangan pria yang akrab disapa Cak Dur ini, terselip sebuah amplop berharga yaitu SK Pengangkatan PPPK Paruh Waktu.
Alih-alih mencari tumpangan atau menaiki bus, Cak Dur justru memulai sebuah perjalanan fisik yang luar biasa. Ia memilih berlari. Bukan lari jarak pendek, melainkan perjalanan sejauh 52 kilometer melintasi aspal panas Kabupaten Banyuwangi menuju rumah dinasnya di SDN 3 Sepanjang, Kecamatan Glenmore.
Penantian 17 Tahun dalam Setiap Langkah Bagi Cak Dur, setiap kilometer yang ia tempuh adalah simbol dari 17 tahun masa pengabdiannya sebagai penjaga sekolah. Sejak tahun 2007, ia telah setia menjaga gerbang, membersihkan ruang kelas, dan memastikan keamanan siswa di SDN 3 Sepanjang.
Penantian panjang itu akhirnya bermuara pada pengangkatan massal oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama sekitar 4.800 tenaga honorer lainnya. “Awalnya saya nazar ke teman-teman di sekolah. Kalau SK saya terima maka saya akan pulang lari. Ternyata terwujud. Namanya nazar harus ditepati,” ucapnya dengan raut wajah sumringah.
Waktu menunjukkan pukul 14.40 WIB saat Cak Dur terlihat beristirahat sejenak di pinggir jalan Kecamatan Genteng. Kemeja putih dan celana bahan hitam—pakaian formal yang ia kenakan saat menerima SK dari Bupati Ipuk Fiestiandani—tampak basah kuyup oleh keringat. Meski sudah menempuh perjalanan lebih dari empat jam sejak mulai start pukul 10.30 WIB, semangatnya tidak padam.
Meskipun otot-otot kakinya mulai memprotes, Cak Dur tetap teguh. “Hanya sedikit kram di kaku. Tetapi masih kuat kok, Saya senang dan bahagia dapat SK PPPK ini,” ujarnya sambil tersenyum lebar, seolah rasa sakit itu tertutup oleh rasa syukur yang membuncah.
Aksi ini bukan sekadar pamer kekuatan fisik. Bagi pria asal Dusun Sidomulyo ini, lari 52 kilometer adalah manifestasi rasa terima kasihnya kepada Tuhan dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang telah memberikan kepastian status kepegawaian baginya. “Semangatnya luar biasa.” Kata Cak To, salah seorang.
Perjalanan dari Kecamatan Giri menuju Glenmore bukanlah rute yang mudah. Namun bagi Cak Dur, rasa lelah itu adalah “upah” yang ia bayar dengan ikhlas untuk sebuah ketenangan batin. Di sela-sela napasnya yang menderu, ia membawa pulang bukan sekadar kertas, melainkan harga diri dan jaminan masa depan bagi keluarganya.
Kisah Cak Dur adalah pengingat bahwa di balik angka-angka statistik pengangkatan pegawai, ada jiwa-jiwa tulus yang rela berkorban demi pengabdian. Sore itu, di jalanan Banyuwangi, Cak Dur tidak hanya berlari menuju rumah, ia sedang berlari menuju babak baru kehidupannya yang lebih cerah. Besok, ia akan kembali ke SDN 3 Sepanjang. Tidak lagi dengan beban ketidakpastian, tapi dengan langkah tegap sebagai abdi negara yang telah menuntaskan janjinya—baik kepada instansi, maupun kepada nuraninya sendiri. (tim)