Site icon Sekar Kijang News

MENUJU SWASEMBADA GULA 2026, PG GLENMORE TARGETKAN GILING 1 JUTA TON TEBU DENGAN PRODUKSI GULA 74 RIBU TON

General Manager PG Glenmore Banyuwangi, Agus Priambodo dalam Acara Selamatan Giling Tebu 2026

SEKARKIJANG.BANYUWANGI – Pabrik Gula (PG) Glenmore resmi bersiap memulai musim giling tahun 2026 yang dijadwalkan jatuh pada 9 Mei 2026 mendatang. Di tengah tantangan krisis energi global, PG Glenmore bersama para petani tebu dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperkuat sinergi untuk mencapai target produksi nasional.

General Manager PG Glenmore, Agus Priambodo dalam selamatan Giling 2026, mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya mematok target besar, yakni menggiling  1 juta ton tebu dengan proyeksi hasil produksi gula mencapai 74 ribu ton gula. Meski demikian, ia tidak menampik adanya tantangan berat, terutama terkait lonjakan biaya operasional.  “Tantangan giling saat ini mulai terasa pada kenaikan harga bahan bakar yang hampir menyentuh Rp40.000 per liter, serta beban biaya plastik kemasan karung gula. Namun, kami optimis dengan doa restu semua pihak, giling tahun ini akan diberi kemudahan oleh Allah SWT,” ujar Agus.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran PG Glenmore tidak hanya mengejar profit bisnis semata, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat dan Pemkab Banyuwangi, terutama melalui dukungan pendanaan KUR Tebu dari perbankan.

Ketua APTR PG Glenmore, Siswono, menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas distribusi BBM selama masa panen. Mengingat eskalasi konflik di Timur Tengah (Iran vs Israel dan Amerika Serikat), ia khawatir akan berdampak pada kelangkaan solar di tingkat petani.

“Kami butuh dukungan dan perlindungan dari Bupati Banyuwangi agar stok solar tetap terjaga. Jangan sampai saat panen raya, petani justru kesulitan bahan bakar,” tegas Siswono. Beberapa poin evaluasi yang ditekankan untuk petani antara lain Kualitas Bahan baku dimana petani diminta menjaga tebu dari material batu agar tidak merusak mesin pabrik. Selain itu, dia berharap produksi tidak dipaksakan mencapai kapasitas maksimal 6.000 ton per hari demi menjaga kematangan tebu agar rendemen tetap tinggi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Danang Hartanto, mengapresiasi peran strategis sektor tebu. Sebagai kabupaten dengan kinerja terbaik di Indonesia tahun 2026, Banyuwangi fokus pada strategi kemandirian pangan dan energi. “Strategi kita jelas, tebu Banyuwangi harus masuk ke pabrik-pabrik di Banyuwangi semua. Kami juga mendukung penuh langkah hilirisasi, termasuk pengembangan pabrik bioetanol ke depannya,” kata Danang.

Menurut dia, Pemkab Banyuwangi juga memastikan dukungan bagi petani tebu untuk  mendapatkan jatah bantuan bibit tebu program CPCL dengan bibit tebu 60.000 mata per ha  dengan bantuan maksimal 5 ha bibit per orang. Selama proses pengajuan CPCL Calon Petani Calon Lokasi dilakukan dengan benar. Untuk pupuk bersubsidi baru untuk 2 ha dengan mekanisme pembelian dan pendaftaran e-rdkk melalui dinas pertanian dan pangan Banyuwangi.

Danang juga mengingatkan seluruh elemen untuk mengutamakan keselamatan kerja (K3) selama musim giling 2026 berlangsung agar produktivitas tetap optimal tanpa kendala kecelakaan kerja. (art)

Exit mobile version