
Salah satunya adalah Endang Sudarmi (53), warga Jalan Suprapto, Jember. Ia mengaku tidak merasa keberatan menyumbangkan darahnya di siang hari. “Saya dapat informasi di grup WhatsApp ada giat donor di SMAK Santo Paulus, maka saya langsung ikut. Kondisi saya sehat, jadi tidak masalah,” ujar Endang yang tercatat sudah beberapa kali melakukan donor darah.
Menanggapi hal tersebut, dr. Zain Ahmad Wahyudi kepala UDD PMI Kabupaten Jember menjelaskan bahwa secara kesehatan, berpuasa tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendonorkan darah. Syarat Utama kondisi tubuh harus dalam keadaan fit dan sehat.
Meski diperbolehkan siang hari, pendonor disarankan untuk memahami kondisi fisiknya masing-masing. “Umat Islam yang sedang puasa boleh saja donor darah di siang hari. Yang penting kondisi tubuhnya sehat, itu tidak masalah,” tegas dr. Rizal.
Senada dengan tim medis, Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, juga mendukung pandangan tersebut. Ia mengapresiasi masyarakat yang tetap memiliki jiwa kemanusiaan tinggi untuk berbagi di bulan Ramadan, tanpa perlu khawatir ibadah puasanya terganggu secara fisik.
Untuk mengantisipasi penurunan jumlah pendonor di siang hari, PMI Jember memang menerapkan strategi jemput bola di malam hari dengan menggelar kegiatan donor darah di masjid-masjid atau pusat keramaian usai salat Tarawih. UDD PMI Kab Jember telah mengadakan kegiatan di lokasi strategis seperti gereja atau sekolah non-muslim, seperti yang rutin dilaksanakan di SMAK Santo Paulus Jember. (art)