
Dalam pemaparannya, Cak Aro menjelaskan reportase pada umumnya adalah kegiatan jurnalistik yang meliputi pengumpulan fakta, data, dan informasi langsung dari lapangan untuk kemudian disusun menjadi sebuah berita atau laporan. Sedangkan reportase investigative adalah level tertinggi sekaligus yang penuh tantangan dalam dunia kewartawanan.
Untuk memberi gambaran nyata, Cak Aro mengulas kembali peristiwa bersejarah Skandal Watergate di Amerika Serikat Tahun 1976 silam. Ia menjelaskan bagaimana kegigihan jurnalis dalam melakukan investigasi mampu mengguncang tatanan politik dunia. “Investigasi bukan sekadar mencari berita, tapi mencari kebenaran yang sengaja disembunyikan. Kasus Watergate adalah bukti nyata di mana kerja keras jurnalis mampu membuat Presiden AS saat itu, Richard Nixon, terpaksa mengundurkan diri,” ujar Cak Aro di hadapan para peserta.
Tak hanya soal politik, tantangan fisik dan keselamatan juga menjadi bagian tak terpisahkan. Cak Aro mengisahkan perjuangan Meutya Hafid, yang kini menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, namun dulunya merupakan jurnalis tangguh Metro TV.
Ia mengingatkan peserta tentang insiden saat Meutya ditahan oleh kelompok militan ketika bertugas meliput Perang Teluk di Timur Tengah. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dedikasi jurnalis seringkali harus dibayar dengan pertaruhan nyawa demi menyampaikan fakta dari wilayah konflik.
Ketua LPM Manifest FTP Unej, Thalita Fairuz Rossi Prasasti, menjelaskan bahwa kehadiran pemateri berpengalaman seperti Cak Aro dalam PJTD tahun ini bertujuan untuk membekali kader baru dengan mentalitas yang kuat. Juga Membentuk keberanian dalam mencari fakta di lapangan. Menjaga integritas dan kode etik jurnalistik.
Serta mengasah kemampuan teknik menulis dan analisis data investigatif. “Tujuan diadakannya PJTD ini adalah agar anggota baru LPM Manifest tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keberanian untuk menjunjung tinggi nilai-nilai jurnalistik sejak dini,” pungkas Thalita. (art)