SEKARKIJANG.JEMBER – Kemahiran bahasa Inggris kini menjadi kompetensi krusial bagi generasi muda di tengah arus globalisasi. Namun, tantangan besar masih membayangi wilayah perdesaan, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga metode pengajaran yang kurang variatif. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dari Politeknik Negeri Jember (Polije) melaksanakan program pengabdian masyarakat inovatif di Yayasan Tanoker Ledokombo, Kabupaten Jember.
Program yang kolaborasi dengan Academy of Language Studies UiTM MARA Malaysia ini menyasar siswa tingkat SD hingga SMP ini mengusung pendekatan Game-Based English Learning. Tujuannya tidak hanya untuk mengasah kemampuan linguistik, tetapi juga memperkuat nilai-nilai karakter melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Kegiatan ini digawangi oleh tim dosen Polije yang memiliki kepedulian tinggi terhadap literasi bahasa di daerah penyangga. Mereka adalah Nodistya Septian Indrastana, Enik Rukiati, Renata Kenanga Rinda, Vigo Dewangga, Yuslaili Ningsih dan Nur Aqilah Binti Norwahi.
Implementasi program dilakukan secara sistematis melalui tiga tahapan utama: persiapan matang, pelaksanaan di lapangan, dan evaluasi menyeluruh. Di Yayasan Tanoker, anak-anak diajak mempelajari kosakata dan ekspresi dasar bahasa Inggris melalui berbagai permainan kolaboratif.
“Kami melihat adanya gap dalam pembelajaran bahasa Inggris di pedesaan. Dengan game-based learning, hambatan psikologis seperti rasa takut salah atau bosan bisa diminimalisir,” ujar perwakilan tim pengabdi.
Hasil dari program ini menunjukkan dampak positif yang nyata. Selain meningkatnya pemahaman kosakata (vocabulary) dan keberanian berbicara, para siswa menunjukkan peningkatan motivasi belajar yang tinggi.
Lebih jauh lagi, aktivitas ini berhasil mengintegrasikan pendidikan karakter. Melalui permainan kelompok, nilai-nilai penting seperti kerja sama, tanggung jawab, dan sportivitas tumbuh secara alami di dalam diri para siswa. Temuan ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis permainan efektif berfungsi sebagai jembatan antara peningkatan kognitif dan pembentukan moral anak di usia sekolah.
Dengan suksesnya program ini, diharapkan model pembelajaran serupa dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan untuk mencetak generasi muda pedesaan yang tidak hanya cakap berbahasa global, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh. (wahyu)