Sekar Kijang News

APTR DAN PG GLENMORE DUDUK BERSAMA EVALUASI MUSIM GILING 2026, TRANSPARANSI RENDEMEN JADI SOROTAN

SEKARKIJANG.JEMBER – Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG Glenmore bersama manajemen Pabrik Gula (PG) Glenmore menggelar forum silaturahmi dan evaluasi musim panen serta giling tebu 2026 di Gapuro Cafe dan Restoran, Minggu (19/7/2026). Pertemuan berlangsung terbuka dengan tujuan mencari solusi atas masih stagnannya capaian rendemen tebu yang menjadi perhatian para petani.

Ketua APTR PG Glenmore, Siswono, menegaskan bahwa forum tersebut bukan untuk saling menyalahkan, melainkan membangun komunikasi yang konstruktif antara petani dan pihak pabrik.

“Kami datang bukan untuk menghakimi, tetapi mencari solusi bersama. Saat ini kondisi iklim mendukung dan kematangan tebu juga sudah baik. Karena itu kami mempertanyakan mengapa rendemen masih stagnan, sementara di pabrik lain sudah mampu menembus angka di atas 9 persen,” ujarnya.

Menurut Siswono, petani membutuhkan penjelasan yang objektif dan transparan mengenai penyebab belum optimalnya rendemen. Ia berharap seluruh persoalan disampaikan secara proporsional agar tidak memunculkan kecurigaan antara petani dan pabrik.

Menanggapi hal tersebut, General Manager PG Glenmore, Agus Priambodo, menjelaskan bahwa dinamika rendemen tahun ini cukup kompleks. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah fenomena tebu berbunga pada April hingga Mei yang sempat menimbulkan kekhawatiran.

Ia menjelaskan bahwa pada awal musim giling, PG Glenmore dan PG Prajekan sama-sama mengalami peningkatan rendemen. Namun setelah memasuki pertengahan musim, rendemen PG Glenmore cenderung stagnan.

“Kami terus berupaya mendapatkan hasil terbaik. Kondisi stop and go saat proses giling juga berpengaruh terhadap capaian rendemen. Kami menggunakan sistem core sampler untuk mengetahui potensi rendemen secara objektif dan menjaga kualitas penerimaan tebu. Pabrik tidak mengambil hak petani, seluruh proses dilakukan berdasarkan sistem dan analisis laboratorium,” tegas Agus.

Sementara itu, Manajer Pengolahan PG Glenmore, Guntur Prihatomo, menyampaikan bahwa dari sisi teknis pabrik terus berupaya menekan kehilangan gula (losses). Menurutnya, tingkat kehilangan di PG Glenmore relatif rendah dibanding sejumlah pabrik lain sehingga diharapkan mampu menjadi nilai tambah terhadap hasil pengolahan.

Senada dengan ituManajer Quality Assurance PG Assembagoes, Lukman Noir Hakim, mengatakan bahwa kualitas tebu tetap menjadi faktor utama dalam menentukan rendemen.

“Semakin baik mutu tebu yang diterima, semakin baik pula rendemen yang dihasilkan. Seluruh analisis dilakukan setiap hari secara rutin dan profesional,” katanya.

Dalam sesi diskusi, berbagai masukan juga disampaikan para peserta. Sutrisno menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam menentukan waktu panen sesuai karakter klon tebu. Menurutnya, pengetahuan mengenai masa kemasakan tebu harus lebih banyak dibagikan kepada petani agar potensi rendemen dapat dimaksimalkan.

Sementara Ery Warman, salah satu mantan manajer PTPN mengusulkan agar pengawasan budidaya dilakukan sejak di lahan (off farm) melalui pendampingan bersama antara PG dan petani. Ia juga meminta adanya evaluasi terhadap sistem penilaian kualitas tebu agar tidak merugikan petani.

Di sisi lain, Izmaul Haqqi petani tebu yang sebelumnya bekerja di PG Prajekan mengapresiasi peran APTR dalam meningkatkan pengawasan penerimaan tebu di pabrik sehingga kualitas tebu yang masuk semakin baik. Menurutnya, sinergi tersebut perlu terus diperkuat agar kepercayaan petani terhadap pabrik semakin meningkat.

Kinerja pabrik yang optimal seharusnya selaras dengan pencapaian angka rendemen yang baik. Di sisi lain, penempatan personel di pabrik gula (PG) memiliki rekam jejak sejarahnya sendiri. Pembentukan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) awal mulanya dipicu oleh rasa ketidakpercayaan petani terhadap pihak pabrik.

Di PG Prajekan, misalnya, pernah ada kolaborasi melalui KKPPG serta tokoh-tokoh APTR seperti Pak Edi Brunei. Peran penempatan personel ini sangat krusial—bahkan sering kali bertindak bak auditor yang melebihi peran dokter gula itu sendiri. Latar belakang inilah yang akhirnya melahirkan kebijakan penempatan wakil petani di PG.

Dari proses tersebut, lahirlah gerakan tebu bersih. “Saya sendiri yang mengawali penerapannya di lapangan. Pada mulanya tentu tidak mudah; kami harus berhadapan dan berdebat keras dengan para sopir truk tebu. Namun, seiring berjalannya waktu, para petani mulai menyadari manfaatnya. Sistem seleksi dan penerimaan tebu bersih yang diterapkan PG akhirnya bisa berjalan dengan baik dan diterima semua pihak,” tutur Haqqi, sapaan karibnya.

Pada penutupan forum, Siswono menyampaikan beberapa rekomendasi penting, di antaranya pemasangan layar monitor yang menampilkan informasi rendemen secara real time, peningkatan transparansi melalui sistem berbasis web, analisis rendemen yang semakin profesional, penguatan fungsi pengawasan APTR, pemisahan analisis tebu sendiri (TS) dan tebu rakyat (TR), serta usulan perluasan kerja sama operasional (KSO) yang akan disampaikan kepada manajemen pusat.

Ia berharap hasil pertemuan tersebut menjadi langkah awal memperkuat kepercayaan antara petani dan PG Glenmore.

“Forum ini membuka ruang keterbukaan. Ke depan kami berharap tidak ada lagi saling curiga. Transparansi menjadi kunci agar petani dapat ikut mengawasi sekaligus meningkatkan kualitas tebu yang dihasilkan,” pungkas Siswono. (art)

Exit mobile version