
SEKARKIJANG.JEMBER – Menjelang dimulainya musim giling tahun 2026, sektor perkebunan tebu di Kabupaten Jember tengah melakukan penguatan barisan. Dalam agenda konsolidasi petani tebu bersama Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait), yang digelar di Rumah Makan Taman Mangli Indah (RM Terapung), Sabtu (25/4/2026), muncul desakan kuat terkait investasi pabrik gula swasta dan stabilitas pasokan energi.
Dalam pertemuan tersebut, terungkap informasi krusial bahwa awal musim giling PG Glenmore Banyuwangi mengalami pergeseran jadwal. Semula direncanakan pada 5 Mei, kini diperkirakan mundur menjadi 9 Mei 2026.
Ketua APTR PG Glenmore, Siswono, SIP, secara terbuka meminta Bupati Gus Fawait yang diwakili Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember (TPHP) untuk proaktif mendatangkan investor guna membangun pabrik gula (PG) swasta di wilayah Jember. Menurutnya, dominasi PG milik BUMN saat ini perlu diimbangi oleh sektor swasta agar tercipta ekosistem bisnis yang lebih dinamis. “Kami berharap Gus Bupati bisa membawa investor untuk mendirikan pabrik gula swasta di Jember. Dengan adanya pabrik swasta, akan ada persaingan sehat. Petani memiliki pilihan dan bisa mendapatkan pelayanan yang lebih efisien,” ujar Siswono.
Isu energi juga menjadi sorotan utama. APTR PG Glenmore menitipkan pesan khusus kepada Pemerintah Kabupaten Jember melalui Satgas Pangan untuk menjamin distribusi bahan bakar minyak (BBM).
“Kami minta Gus Bupati juga menjaga stok solar bersubsidi. Jangan sampai saat musim giling berjalan, solar justru langka. Kelancaran proses tebang angkut sangat bergantung pada ketersediaan energi ini,” tegas Siswono.
General Manajer (PG) Glenmore Banyuwangi, Agus Priambodo, mengakui potensi lahan di Jember sangat menjanjikan. Namun, ia memberikan catatan mengenai investasi industri gula.
“Membangun pabrik bisa memakan waktu 2 tahun, namun mengembangkan kebun tebunya butuh waktu hingga 5 tahun. Ini adalah industri yang membutuhkan napas panjang,” jelas Agus.
Bupati Jember, Gus Fawait, melalui sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kepala Dinas TPHP Kabupaten Jember M Djamil, menegaskan komitmennya untuk menyejahterakan petani tebu. Beberapa langkah strategis yang disiapkan Pemkab Jember antara lain dukungan mekanisasi.Saat inu pihaknya menyiapkan 9 unit traktor roda empat melalui Brigade Alsintan untuk percepatan proses bongkar ratoon.
Selain itu. Pemerintah menargetkan luasan indikatif sebesar 2.554 hektar melalui program Calon Petani Calon Lokasi (CPCL). Hingga April, terealisasi 1.300 hektar dan ditargetkan rampung sebelum Oktober 2026.
Selain itu juga ada Program Hari Orang Kerja (HOK) yaitu biaya tanam gratis. Melalui skema CPCL untuk mendorong percepatan swasembada gula.
Untuk itu, Petani tebu diimbau segera membentuk kelompok tani agar terdaftar dalam RDKK, terutama bagi pemilik lahan di bawah 2 hektar, guna mengamankan kuota pupuk subsidi.
Bupati Gus Fawait dalam sambutan tertulisnya mengapresiasi kontribusi sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi motor penggerak ekonomi Jember. Diketahui, sektor ini turut menyumbang pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,47% serta berperan signifikan dalam menekan angka pengangguran.
“Visi kami jelas, di mana ada perkebunan tebu, di situ masyarakat harus sejahtera. Regulasi dan pembinaan akan terus ditingkatkan agar produktivitas (protas) yang sempat turun bisa kembali optimal,” pungkas Gus Fawait dalam pesan tertulisnya. (art)