Close Menu

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    NU TIDAK KEKURANGAN TOKOH, NU BUTUH ARAH

    Agustus 28, 2026

    MENAVIGASI GEOPOLITIK HIJAU: KRITIK TERHADAP PARADOKS TRANSISI ENERGI DAN IMPERATIF KEDAULATAN EKOLOGI

    Agustus 6, 2026

    KETIKA KRISIS LINGKUNGAN MENJADI PERTARUNGAN KEKUASAAN GLOBAL

    Agustus 6, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    Sekar Kijang NewsSekar Kijang News
    • Log In
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    SUBSCRIBE
    • News
    • Cangkruk
    • Ekonomi
    • Entertainment
    • Ragam
    Sekar Kijang NewsSekar Kijang News
    Home » NU TIDAK KEKURANGAN TOKOH, NU BUTUH ARAH
    News

    NU TIDAK KEKURANGAN TOKOH, NU BUTUH ARAH

    Sekar Kijang 2By Sekar Kijang 2Agustus 28, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

    Dr. Irfan Kharisma Putra, S.AB., M.AB., C.PS., C.DM., CSEM
    (Tokoh Muda NU & Akademisi)

    Muktamar NU di Jombang kembali memperlihatkan satu hal: NU tidak pernah kekurangan tokoh. Yang justru perlu terus dijaga adalah arah, marwah, dan independensi jam’iyah.

    Hari ini, kontestasi tidak hanya bergerak pada nama kandidat. Ada poros Gus Ipul, Nusron Wahid, dan Cak Imin dengan karakter jaringan yang berbeda. Ada yang kuat di struktur, ada yang kuat di jejaring politik nasional, ada pula yang memiliki basis politik yang lebih terinstitusionalisasi.

    Sebagai dinamika organisasi, itu wajar.

    Namun bagi saya, pertanyaan terpenting bukan siapa berada di belakang siapa. Pertanyaannya justru lebih mendasar: apakah NU masih cukup kuat untuk memastikan bahwa semua poros tetap berada di bawah kepentingan jam’iyah?

    Dalam teori organisasi, konfigurasi semacam ini bisa dibaca sebagai power coalition. Setiap organisasi besar memiliki kelompok pengaruh. Persoalan baru muncul ketika kelompok tersebut lebih kuat daripada sistem organisasi itu sendiri. Pada titik itu, organisasi berisiko bergerak dari institution-driven menjadi elite-driven.

    Bagi NU, risikonya tidak kecil.

    Yang dipertaruhkan bukan sekadar kursi Ketua Umum, tetapi institutional trust yang dibangun lebih dari satu abad melalui kiai, pesantren, santri, tradisi, dan jutaan warga nahdliyin.

    Karena itu, politik organisasi harus tetap memiliki batas etik.

    NU bukan hanya elite di Jakarta.

    NU adalah kiai kampung, guru ngaji, pesantren, Muslimat, Fatayat, Ansor, PMII, santri, dan warga yang menjaga jam’iyah tanpa pernah meminta posisi.

    Maka jabatan di NU seharusnya tidak dibaca sebagai kemenangan politik, melainkan amanah khidmah.

    NU juga perlu berhati-hati menjaga relasinya dengan kekuasaan. Kedekatan kader NU dengan pemerintah adalah sesuatu yang lumrah, bahkan penting. Tetapi kedekatan itu jangan sampai mengaburkan batas antara partnership dan subordinasi.

    NU harus bisa dekat dengan negara tanpa kehilangan jarak kritis.

    Bekerja sama dengan pemerintah tanpa kehilangan independensi.

    Dalam bahasa governance, NU harus menjaga organizational autonomy.

    Di sinilah Muktamar Jombang seharusnya naik kelas.

    Perdebatan jangan berhenti pada siapa calon ketua umum, siapa yang paling kuat, atau apakah sistem AHWA perlu diperluas. Yang dibutuhkan NU bukan hanya electoral reform, tetapi governance reform: sistem yang transparan, akuntabel, dan mampu menjaga suara cabang dari tekanan serta transaksi kepentingan.

    Sebab tantangan NU hari ini sudah jauh berubah.

    Artificial intelligence, ekonomi digital, masa depan pesantren, kualitas pendidikan, ekonomi umat, lingkungan, hingga perubahan karakter generasi muda adalah agenda yang jauh lebih besar daripada sekadar pertarungan posisi.

    NU setelah satu abad tidak cukup hanya besar secara struktur.

    NU harus besar dalam impact.

    Tidak cukup banyak lembaga. Harus jelas hasilnya.

    Tidak cukup banyak kader di pemerintahan. Harus jelas kontribusinya.

    Tidak cukup bangga memiliki jutaan warga. Harus ada mobilitas sosial dan ekonomi yang benar-benar dirasakan oleh nahdliyin.

    Karena itu, NU membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya piawai memenangkan muktamar, tetapi mempunyai transformational capability: mampu mempertemukan kiai dan akademisi, pesantren dan teknologi, santri dan entrepreneurship, serta tradisi dan inovasi.

    Pada akhirnya Gus Ipul, Nusron, Cak Imin, ataupun tokoh lain adalah bagian dari perjalanan organisasi. Poros akan berganti. Kekuasaan akan berubah.

    Tetapi NU harus tetap lebih besar daripada semuanya.

    Sebagai generasi muda NU, saya kira sudah saatnya kita menggeser pertanyaan.

    Bukan lagi:

    “Siapa yang akan memenangkan Muktamar?”

    Tetapi:

    “Apakah setelah Muktamar, NU akan semakin mampu memenangkan masa depan?”

    Sebab NU tidak kekurangan tokoh.

    1. **NU membutuhkan arah.**
    Previous ArticleMENAVIGASI GEOPOLITIK HIJAU: KRITIK TERHADAP PARADOKS TRANSISI ENERGI DAN IMPERATIF KEDAULATAN EKOLOGI
    Sekar Kijang 2

    Related Posts

    MENAVIGASI GEOPOLITIK HIJAU: KRITIK TERHADAP PARADOKS TRANSISI ENERGI DAN IMPERATIF KEDAULATAN EKOLOGI

    Agustus 6, 2026

    KETIKA KRISIS LINGKUNGAN MENJADI PERTARUNGAN KEKUASAAN GLOBAL

    Agustus 6, 2026

    DELEGASI JRCS JEPANG KUNJUNGI SMPN 3 JEMBER, APRESIASI KEBERLANJUTAN PROGRAM SPAB BERSAMA PMI

    Agustus 5, 2026

    Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

    Don't Miss
    News

    NU TIDAK KEKURANGAN TOKOH, NU BUTUH ARAH

    By Sekar Kijang 2Agustus 28, 20260

    Dr. Irfan Kharisma Putra, S.AB., M.AB., C.PS., C.DM., CSEM (Tokoh Muda NU & Akademisi) Muktamar…

    MENAVIGASI GEOPOLITIK HIJAU: KRITIK TERHADAP PARADOKS TRANSISI ENERGI DAN IMPERATIF KEDAULATAN EKOLOGI

    Agustus 6, 2026

    KETIKA KRISIS LINGKUNGAN MENJADI PERTARUNGAN KEKUASAAN GLOBAL

    Agustus 6, 2026

    DELEGASI JRCS JEPANG KUNJUNGI SMPN 3 JEMBER, APRESIASI KEBERLANJUTAN PROGRAM SPAB BERSAMA PMI

    Agustus 5, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    NU TIDAK KEKURANGAN TOKOH, NU BUTUH ARAH

    Agustus 28, 2026

    MENAVIGASI GEOPOLITIK HIJAU: KRITIK TERHADAP PARADOKS TRANSISI ENERGI DAN IMPERATIF KEDAULATAN EKOLOGI

    Agustus 6, 2026

    KETIKA KRISIS LINGKUNGAN MENJADI PERTARUNGAN KEKUASAAN GLOBAL

    Agustus 6, 2026

    DELEGASI JRCS JEPANG KUNJUNGI SMPN 3 JEMBER, APRESIASI KEBERLANJUTAN PROGRAM SPAB BERSAMA PMI

    Agustus 5, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    Sekar Kijang platform digital menyajikan informasi berita terkini yang Jernih dan Inspiratif

    Our Picks
    New Comments
    • Harvey Oswald pada SEPULUH PASANG FINALIS BAKAL “BERTARUNG” UNTUK MENJADI YOUTH AMBASSADOR 2026 SMPN 3 JEMBER
    • Harvey Oswald pada SEPULUH PASANG FINALIS BAKAL “BERTARUNG” UNTUK MENJADI YOUTH AMBASSADOR 2026 SMPN 3 JEMBER
    • BAMBANG HERRY: BANJIR JEMBER ADALAH MASALAH STRUKTURAL, MINTA PEMDA LAKUKAN PENGAWASAN - Sekar Kijang News pada AEP MINTA GUS BUPATI TINDAK PENGEMBANG NAKAL
    • AEP MINTA: BUPATI TINDAK PENGEMBANG NAKAL - Sekar Kijang News pada GALANG DONASI KELILING KELAS, PMR WIRA SMKN 5 JEMBER SALURKAN BANTUAN UNTUK KORBAN BENCANA SUMATERA MELALUI PMI KABUPATEN JEMBER
    Sekar Kijang News
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tentang Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Pedoman Media Siber
    • Disclaimer
    © 2026 SekarKijang.com. Designed by @imron_designer.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.