
SEKARKIJANG.BANYUWANGI – Semangat optimisme menyelimuti para petani tebu di lingkungan Pabrik Gula (PG) Glenmore. Dalam acara Selametan Giling Tebu PG Glenmore yang digelar di aula pabrik pada Sabtu, 2 Mei 2026, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG Glenmore, Siswono, menekankan pentingnya sinergi dan perlindungan pemerintah bagi keberlangsungan produksi gula nasional.
Dalam sambutannya, Siswono menyoroti stabilitas pasokan energi sebagai kunci kelancaran panen. Mengingat eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran vs Israel dan Amerika Serikat yang berdampak pada harga minyak dunia, ia meminta perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
“BBM butuh regulasi yang kuat. Kami berharap Satgas Pangan Banyuwangi turut menjaga ketersediaan BBM agar saat panen raya nanti petani tidak kesulitan mendapatkan solar. Kami mohon dukungan dan perlindungan dari Ibu Bupati Ipuk Fiestiandani,” ujar Siswono.
Ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada aparat kepolisian yang selama ini telah memberikan pengawalan bagi angkutan tebu, sehingga proses distribusi dari lahan ke pabrik berjalan aman.
Menengok ke belakang, Siswono mengajak petani untuk bangkit dari masa sulit tahun lalu. Meski sempat mengalami penurunan rendemen akibat faktor alam, ia meminta petani tetap optimis menghadapi musim giling tahun 2026. Diharapkan rendeman mencapai minimal diangka 6, dengan harapan optimis bisa menyentuh angka 11.
Dia menambahkna, petani tebu merasa sangat diuntungkan dengan teknologi mesin di PG Glenmore yang mampu menghasilkan kualitas gula sangat baik sehingga sangat kompetitif di pasar. “Pasalnya, kualitas gula yang dihasilkan bagus. “Di saat di PG lain kesuliutan menjual gula tahun 2025 lalu. Gula PG Glenmore terjual semua. Hal itu tak lepas dari kualitas gula PG Glenmore yang bagus,” ungkap pria yang juga anggota DPRD tersebut.
Salah satu poin penting evaluasi tahun ini adalah mengenai kebersihan bahan baku tebu. Siswono mengimbau petani untuk memastikan tebu yang dikirim bebas dari batu. “Jika ditemukan batu dalam muatan, maka truk tersebut kami harapkan dipisahkan. Ini demi menjaga agar tidak mempengaruhi kualitas tebu petani lain yang sudah bersih. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa target produksi tidak akan dipaksakan di angka 6.000 ton per hari, melainkan lebih mengutamakan tingkat kematangan tebu agar rendemen yang dihasilkan tetap tinggi.
Terkait kesejahteraan petani, APTR juga menitipkan aspirasi mengenai beban biaya produksi yaitu memohon adanya keberlanjutan subsidi pupuk, dan mengusulkan agar pajak pada pupuk dihilangkan guna meringankan biaya tanam petani.
Acara ini dihadiri langsung oleh General Manager PG Glenmore, Agus Priambodo, serta Bupati Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Danang Hartano. Keduanya turut memberikan sambutan yang senada mengenai pentingnya sinergitas antara pabrik, petani, dan pemerintah demi mewujudkan swasembada pangan, khususnya komoditas gula di Banyuwangi. (art)