SEKARKIJANG.JEMBER — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember bakal mengintensifkan sosialisasi mengenai Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD) kepada masyarakat, termasuk para pendonor darah.
Hal tersebut disampaikan Ketua PMI Kabupaten Jember Zainollah, didampingi Kepala UDD PMI Kabupaten Jember dr. M. Agus Burhansyah, saat berdialog dengan para penggerak donor darah dalam kegiatan Mini Gathering memperingati HUT ke-81 PMI di Markas PMI Kabupaten Jember, Minggu (20/9/2026).
Masukan mengenai perlunya sosialisasi BPPD disampaikan langsung oleh salah seorang penggerak pendonor. Ia mengaku cukup sering mendapat pertanyaan dari masyarakat mengenai perbedaan antara proses donor darah dan biaya yang muncul ketika seseorang membutuhkan darah.
“Sering ditanyakan, saat donor darah hanya mendapatkan snack. Tetapi ketika membutuhkan darah, ada biaya sekitar Rp490 ribu per kantong. Bahkan pertanyaan seperti ini juga disampaikan oleh orang yang aktif donor darah,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala UDD PMI Kabupaten Jember dr. M. Agus Burhansyah mengatakan, persoalan pemahaman mengenai BPPD bukan hanya terjadi di Jember, melainkan juga menjadi persoalan secara nasional.
“Ini masalah nasional. Saya sendiri yang dokter sebelum menjadi Kepala UDD PMI juga pernah bertanya hal yang sama. Saya baru memahami betul setelah menjadi Kepala UDD PMI,” kata dr. Burhan.
Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai BPPD memang perlu terus diperkuat. Namun, keterbatasan sumber daya manusia di UDD PMI menjadi salah satu kendala dalam melakukan sosialisasi secara lebih luas.
“Personel kami di UDD PMI terbatas, hanya sekitar 80-an orang. Untuk melakukan sosialisasi tentu ada keterbatasan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Jember Zainollah menyampaikan apresiasi atas masukan dari para penggerak donor darah. Menurutnya, masukan tersebut akan menjadi perhatian PMI Jember.
“Terima kasih atas masukan dari para penggerak pendonor. Masalah sosialisasi BPPD ini akan menjadi atensi kami,” tegas Zainollah.
Ia mengatakan, PMI Jember akan berupaya melibatkan seluruh komponen organisasi untuk membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai BPPD.
“Nanti kami upayakan semua komponen PMI, baik pengurus maupun relawan, mulai TSR, KSR Markas, KSR perguruan tinggi, PMR Wira dan komponen lainnya, senantiasa aktif menyosialisasikan tentang Biaya Pengganti Pengolahan Darah atau BPPD,” ujarnya.
Zainollah berharap, dengan sosialisasi yang dilakukan secara lebih masif dan berkelanjutan, masyarakat tidak hanya memahami pentingnya donor darah, tetapi juga mengetahui proses pengolahan darah hingga siap digunakan untuk kebutuhan transfusi.
“Intinya, jangan sampai ada kesalahpahaman. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh mengenai proses pelayanan darah dan BPPD,” pungkasnya. (art)